Penelitian dimaksudkan untuk meneliti faktor-faktor yang berpengaruh pada terbentuknya uap, mempelajari parameterparametr yang sensitif terhadap kecepatan terbentuknya uap, dan mempelajari cara-cara untuk memperoleh energi lebih tinggi dengan memanfaatkan perkembangan zona uap.
Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan reservoir secara numerik dengan mengunakan data hipotik. Pemodelan dilakukan dengan mengunakan simulatorTERED versi 9.0 buatan DYAD 88 Sofware Inc. dari Calgary Canada.
Model konseptual mangacu model While (1973). Model komputer berbentuk rectangular 3D dan menggunakan “distributed parameter model” dalam mengambarkan variasi sifat batuan. Luas reservoir yang dimodelkan 5.1 km2, kedalaman 1465 dan ebal reservoir 500 meter, potensi model 9,5 Mwe.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terbentuknya uap dipengaruhi oleh permeabilitas lateral. Laju produksi 197 ton/jam menghasilkan uap paling cepat yaitu pada tahun 2024. sementara untuk jarak sumur lebih pendek (1068 meter) dibandingkan dengan jarak 1540 meter ternyata menghasilkan uap satu tahun lebih cepat untuk laju produksi yang sama, dan laju produksi 180 ton /jam produksi uap meningkat. Sedangkan untuk laju produksi 190 ton/jam uap meningkat cukup besar. Variasi permeablitas pada zone komplesi dan pada daerah recharge ternyata tidak memberikan hasil yang berarti. Satu sumur injeksi yang ditambahkan meningkat laju produksi uap, sedangkan waktu terbentuknya uap tidak mengalami perubahan 2 sumur injeksi yang ditambahkan meningkat laju produksi uap, sedangkan waktu terbentuknya uap tidak mengalami perubahan.
Deskripsi Alternatif :
Penelitian dimaksudkan untuk meneliti faktor-faktor yang berpengaruh pada terbentuknya uap, mempelajari parameterparametr yang sensitif terhadap kecepatan terbentuknya uap, dan mempelajari cara-cara untuk memperoleh energi lebih tinggi dengan memanfaatkan perkembangan zona uap.
Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan reservoir secara numerik dengan mengunakan data hipotik. Pemodelan dilakukan dengan mengunakan simulatorTERED versi 9.0 buatan DYAD 88 Sofware Inc. dari Calgary Canada.
Model konseptual mangacu model While (1973). Model komputer berbentuk rectangular 3D dan menggunakan “distributed parameter model” dalam mengambarkan variasi sifat batuan. Luas reservoir yang dimodelkan 5.1 km2, kedalaman 1465 dan ebal reservoir 500 meter, potensi model 9,5 Mwe.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terbentuknya uap dipengaruhi oleh permeabilitas lateral. Laju produksi 197 ton/jam menghasilkan uap paling cepat yaitu pada tahun 2024. sementara untuk jarak sumur lebih pendek (1068 meter) dibandingkan dengan jarak 1540 meter ternyata menghasilkan uap satu tahun lebih cepat untuk laju produksi yang sama, dan laju produksi 180 ton /jam produksi uap meningkat. Sedangkan untuk laju produksi 190 ton/jam uap meningkat cukup besar. Variasi permeablitas pada zone komplesi dan pada daerah recharge ternyata tidak memberikan hasil yang berarti. Satu sumur injeksi yang ditambahkan meningkat laju produksi uap, sedangkan waktu terbentuknya uap tidak mengalami perubahan 2 sumur injeksi yang ditambahkan meningkat laju produksi uap, sedangkan waktu terbentuknya uap tidak mengalami perubahan.
http://digital.lib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbtm-gdl-s2-2000-mthkristia-56
Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Migas. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Januari 2010
Komposisi Minyak Bumi
Minyak bumi adalah campuran komplek hidrokarbon plus senyawaan organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawa - senyawa yang mengandung konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga.
Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur.
Dalam minyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang dari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.
Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur - unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan atas hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :
Karbon : 83,0 - 87,0 %
Hidrogen : 10,0 - 14,0 %
Nitrogen : 0,1 - 2,0 %
Oksigen : 0,05 - 1,5 %
Sulfur : 0,05 - 6,0 %
Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas tiga golongan, yaitu :
golongan parafinik
golongan naphthenik
golongan aromatik
sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalam crude oil, demikian juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang.
Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan Sulfur, senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan) dan garam - garam anorganik (sebagai suspensi koloidal).
Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.
Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1 - 0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
Konstituen Metalik
Logam - logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil - fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu.
Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke Kilang menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi), dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal) berada pada dasar kolom fraksinasi. Tentang pengolahan minyak bumi menjadi produk-produk yang kita ketahui di pasaran dari dalam kilang akan dibahas secara khusus nanti.
Setiap trayek titik didih disebut "Fraksi", misal :
0 - 50°C : Gas
50 - 85°C : Gasoline
85 - 105°C : Kerosin
105 - 135°C : Solar
> 135°C : Residu (Umpan proses lebih lanjut)
Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur.
Dalam minyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang dari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.
Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur - unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan atas hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :
Karbon : 83,0 - 87,0 %
Hidrogen : 10,0 - 14,0 %
Nitrogen : 0,1 - 2,0 %
Oksigen : 0,05 - 1,5 %
Sulfur : 0,05 - 6,0 %
Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas tiga golongan, yaitu :
golongan parafinik
golongan naphthenik
golongan aromatik
sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalam crude oil, demikian juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang.
Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan Sulfur, senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan) dan garam - garam anorganik (sebagai suspensi koloidal).
Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.
Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1 - 0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
Konstituen Metalik
Logam - logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil - fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu.
Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke Kilang menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi), dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal) berada pada dasar kolom fraksinasi. Tentang pengolahan minyak bumi menjadi produk-produk yang kita ketahui di pasaran dari dalam kilang akan dibahas secara khusus nanti.
Setiap trayek titik didih disebut "Fraksi", misal :
0 - 50°C : Gas
50 - 85°C : Gasoline
85 - 105°C : Kerosin
105 - 135°C : Solar
> 135°C : Residu (Umpan proses lebih lanjut)
Mekanika Batuan
Mekanika Batuan
Laboratorium memfokuskan pada analisa respon batuan terhadap medan gaya oleh suatu medium dari lingkungan fisika nya, untuk pemahaman terhadap ilmu mekanika batuan harus didahului dengan pemahaman tentang mekanika itu sendiri, yaitu ilmu mekanika translasi, rotasi, statika maupun dinamika gaya-gaya terhadap sebuah benda padat.Selanjutnya dua keadaan dimana sebuah benda tidak akan bergerak secara tranlasi maupun rotasi adalah bahwa nilai perubahan kecepatan linier dan angular benda terhadap waktu harus sama dengan nol. Hal ini akan cukup menjamin terwujudnya keadaan dimana besar resultan gaya-gaya tersebut sama dengan nol. Keadaan demikian dikatakan bahwa benda dalam keadaan kondisi keseimbangan statik, keadaan inilah yang merupakan kerangka umum atau dasar dalam kajian mekanika batuan.
Adapun respon dari gaya tersebut dalam bentuk deformasi atau strain ( yaitu perbandingan antara deformasi dengan dimensi awal ), sedangkan medium yang dimaksud bisa berupa medium elastik maupun non elastik, akan tetapi pada umumnya analisa yang dilakukan lebih banyak untuk jenis batuan sedimen seperti batu pasir atau batuan gamping yang bersifat elastik, dengan demikian analisa yang dilakukan lebih mengutamakan pada kasus deformasi elastik saja, karena untuk banyak hal data mengenai deformasi elastik inilah yang banyak dibutuhkan oleh berbagai kegiatan.
Berdasarkan kepada hasil deformasi yang dilakukan dengan uji kompresi dan frekwensi maka dapat digolongkan menjadi dua macam hasil pengujian yaitu : pengujian statis dimana deformasi yang terjadi sangat kecil dan frekwensi nya sangat tinggi sedangkan untuk pengujian dinamis deformasi yang terjadi mencapai maksimum atau dalam arti sampai mencapai kekuatan maksimum dari batuan yang diujinya tetapi frekwensi nya nol. Dari hasil pengujian berdasarkan pada uji kompresi maupun frekwensi maka di laboratorium mekanika batuan dapat melakukan pengujian :
UCS ( Uniaxial Compressive Strength) yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji kekuatan batuan dengan pembebanan sampai batas kekuatan maksimal dari batuannya itu sendiri.
CPV( Compressibilitas Pore Volume) yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji perubahan fraksi pore volume dengan adanya perubahan satuan tekanan.
Acoustic Velocity yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji kecepatan suatu gelombang yang dilewatkan kedalam batuan sehingga dengan diketahui panjang dari batuan nya itu sendiri akan diperoleh waktu tempuh penjalaran gelombang. Adapun kecepatan gelombang yang diperoleh yaitu kecepatan gelombang primer ( Vp ) dan kecepatan gelombang sekunder ( Vs ).
Dalam pengertian secara fisik sifat-sifat elastik dari suatu batuan menghasilkan parameter- parameter sendiri dan memiliki arti sendi-sendiri dan parameter-parameter.
Aplikasi mekanika batuan di dalam perminyakan antara lain:
Di bidang pemboran bisa untuk melakukan uji kestabilan lubang bor.
Di bidang produksi bisa untuk melakukan uji butiran pasir yang ikut terproduksi; untuk melakukan uji pemecahan batuan dengan tekanan hidraulic.
Di bidang reservoir bisa untuk menganalisa indikasi yang berkaitan dengan porositas dan saturasi fluida yang ada didalamnya.
Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan-peralatan mutahir seperti
Triaxial Compressive Strength Tester
Pore Volume Compressibility Tester
Acoustic Velocity
dan peralatan lainnya untuk mengukur parameter batuan.
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/node/162
Laboratorium memfokuskan pada analisa respon batuan terhadap medan gaya oleh suatu medium dari lingkungan fisika nya, untuk pemahaman terhadap ilmu mekanika batuan harus didahului dengan pemahaman tentang mekanika itu sendiri, yaitu ilmu mekanika translasi, rotasi, statika maupun dinamika gaya-gaya terhadap sebuah benda padat.Selanjutnya dua keadaan dimana sebuah benda tidak akan bergerak secara tranlasi maupun rotasi adalah bahwa nilai perubahan kecepatan linier dan angular benda terhadap waktu harus sama dengan nol. Hal ini akan cukup menjamin terwujudnya keadaan dimana besar resultan gaya-gaya tersebut sama dengan nol. Keadaan demikian dikatakan bahwa benda dalam keadaan kondisi keseimbangan statik, keadaan inilah yang merupakan kerangka umum atau dasar dalam kajian mekanika batuan.
Adapun respon dari gaya tersebut dalam bentuk deformasi atau strain ( yaitu perbandingan antara deformasi dengan dimensi awal ), sedangkan medium yang dimaksud bisa berupa medium elastik maupun non elastik, akan tetapi pada umumnya analisa yang dilakukan lebih banyak untuk jenis batuan sedimen seperti batu pasir atau batuan gamping yang bersifat elastik, dengan demikian analisa yang dilakukan lebih mengutamakan pada kasus deformasi elastik saja, karena untuk banyak hal data mengenai deformasi elastik inilah yang banyak dibutuhkan oleh berbagai kegiatan.
Berdasarkan kepada hasil deformasi yang dilakukan dengan uji kompresi dan frekwensi maka dapat digolongkan menjadi dua macam hasil pengujian yaitu : pengujian statis dimana deformasi yang terjadi sangat kecil dan frekwensi nya sangat tinggi sedangkan untuk pengujian dinamis deformasi yang terjadi mencapai maksimum atau dalam arti sampai mencapai kekuatan maksimum dari batuan yang diujinya tetapi frekwensi nya nol. Dari hasil pengujian berdasarkan pada uji kompresi maupun frekwensi maka di laboratorium mekanika batuan dapat melakukan pengujian :
UCS ( Uniaxial Compressive Strength) yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji kekuatan batuan dengan pembebanan sampai batas kekuatan maksimal dari batuannya itu sendiri.
CPV( Compressibilitas Pore Volume) yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji perubahan fraksi pore volume dengan adanya perubahan satuan tekanan.
Acoustic Velocity yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji kecepatan suatu gelombang yang dilewatkan kedalam batuan sehingga dengan diketahui panjang dari batuan nya itu sendiri akan diperoleh waktu tempuh penjalaran gelombang. Adapun kecepatan gelombang yang diperoleh yaitu kecepatan gelombang primer ( Vp ) dan kecepatan gelombang sekunder ( Vs ).
Dalam pengertian secara fisik sifat-sifat elastik dari suatu batuan menghasilkan parameter- parameter sendiri dan memiliki arti sendi-sendiri dan parameter-parameter.
Aplikasi mekanika batuan di dalam perminyakan antara lain:
Di bidang pemboran bisa untuk melakukan uji kestabilan lubang bor.
Di bidang produksi bisa untuk melakukan uji butiran pasir yang ikut terproduksi; untuk melakukan uji pemecahan batuan dengan tekanan hidraulic.
Di bidang reservoir bisa untuk menganalisa indikasi yang berkaitan dengan porositas dan saturasi fluida yang ada didalamnya.
Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan-peralatan mutahir seperti
Triaxial Compressive Strength Tester
Pore Volume Compressibility Tester
Acoustic Velocity
dan peralatan lainnya untuk mengukur parameter batuan.
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/node/162
Proses Terbentuknya Minyak Bumi

Teori Organik (Biogenesis)
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=2&ved=0CAoQFjAB&url=http%3A%2F%2Fkimia.upi.edu%2Futama%2Fbahanajar%2Fkuliah_web%2F2008%2FRiski%2520Septiadevana%25200606249_IE6.0%2Fhalaman_8.html&rct=j&q=proses+terbentuknya+minyak+bumi&ei=3elWS9PnNsuLkAX55YXsBA&usg=AFQjCNFmTZUkL4r1tRXzqqC01PQXL1iVjQ
P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:
- Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi.
- Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb.
- Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen cukup besar.
- Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.
- Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam kambium sampai pleistosan.
- Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.
Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu:
1. Pembentukan sendiri, terdiri dari:
- pengumpulan zat organik dalam sedimen
- pengawetan zat organik dalam sedimen
- transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisansedimen terperangkap.
3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil menjadi akumulasi komersial.
Proses kimia organik pada umumnya dapat dipecahkan dengan percobaan di laboratorium, namun berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta penyebarannya didalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta ini disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai pagar Cox diantaranya adalah:
Minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan sedimen dan umumnya pada sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk minyak bumi yang terdapat di sekitar pantai.
Minyak bumi memeng merupakan campuran kompleks hidrokarbon.
Temperatur reservior rata-rata 107°C dan minyak bumi masih dapat bertahan sampai 200°C. Diatas temperatur ini forfirin sudah tidak bertahan.
Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi ditandai adanya forfirin dan belerang.
Minyak bumi dapat tahan pada perubahan tekanan dari 8-10000 psi.
Proses transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa diatas, diantaranya:
1. Degradasi thermal
Akibat sedimen terkena penimbunan dan pembanaman maka akan timbul perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang sangat penting.
2. Reaksi katalis
Adanya katalis dapat mempercepat proses kimia.
3. Radioaktivasi
Pengaruh pembombanderan asam lemak oleh partikel alpha dapay membentuk hidrokarbon parafin. Ini menunjukan pengaruh radioaktif terhadap zat organik.
4. Aktifitas bakteri.
Bakteri mempunyai potensi besar dalam proses pembentukan hidrokarbon minyak bumi dan memegang peranan dari sejak matinya senyawa organik sampai pada waktu diagnosa, serta menyiapkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya minyak bumi.
Zat organik sebagai bahan sumber
Jenis zat oragink yang dijadikan sumber minyak bumi menurut para ahli dap[at disimpulkan bahwa jenis zat organik yang merupakan zat pembentuk utama minyak bumi adalah lipidzat organik dapat terbentuk dalamkehidupan laut ataupun darat dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: yang berasal dari nabati dan hewani.
Batuan reservoir, Dimana minyak bumi tersimpan
Minyak bumi yang terkandung didalam perut bumi, memiliki wadah atau “rumah”. Sehingga tidak mudah untuk melacak keberadaannya dibawah sana. Dimanakah minyak bumi senang menetap?
Di dalam perut bumi yang menjadi “rumah” bagi minyak bumi adalah batuan reservoir.
Batuan reservoir adalah wadah di bawah permukaan yang bisa mengandung minyak dan juga gas.

Kenapa batuan ini bisa menyimpan minyak dan gas?
Jawabannya adalah, karena batuan jenis ini memiliki ruangan berupa rongga-rongga atau kita sebut dengan pori-pori.
Pada dasarnya semua jenis batuan bisa menjadi “rumah” bagi minyak bumi dan gas. Tetapi hanya batuan yang memiliki kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan minyak bumi lah yang bisa menjadi tempat yang bagus untuk minyak bumi.
Oleh karena itu tidak sembarang batuan yang bisa menjadi rumah bagi minyak bumi.
Itulah mungkin alasannya mengapa para geologist dibayar mahal-mahal untuk memelototin batuan hasil coring dan logging. Karena dengan mengetahui sifat-sifat batuan itu para geologist bisa menentukan ada atau tidaknya cadangan minyak di dalam sebuah reservoir yang di eksplorasi. Dan hebatnya mereka juga bisa menghitung berapa besar cadangan minyak yang terkandung di dalam sebuah reservoir.
Jadi apakah syaratnya sebuah batuan bisa menjadi tempat bagi minyak bumi dan gas alam?
2 hal yang harus menjadi syarat utama yaitu:
porositas
permebealitas.
Dua sifat ini sangat erat berhubungan, sehingga bisa dikatakan bahwa, tanpa porositas tidak mungkin ada permebealitas.Menurut Payne (1942), perbedaan antara porositas dan permebealitas adalah : bahwa porositas menentukan jumlah cairan yang terdapat sedangkan permebealitas menentukan cairan yang dapat diproduksi.
Dengan kata lain dengan mengetahui porositas sebuah batuan seorang geologist bisa menentukan jumlah cadangan yang ada di dalam sebuah reservoir, dan dengan mengetahui permebealitas suatu batuan, dia bisa menentukan berapa jumlah minyak yang bisa diproduksi.
Porositas merupakan perbandingan volume rongga-rongga pori terhadap volume total seluruh batuan.
Sedangkan peremebealitas adalah suatu sifat batuan reservoir untuk dapat meloloskan cairan melalui pori-pori yang berhubungan, tanpa merusak partikel atau kerangka batuan tersebut.
http://fauzan291.wordpress.com/2008/12/24/batuan-reservoir-dimana-minyak-bumi-tersimpan/
Di dalam perut bumi yang menjadi “rumah” bagi minyak bumi adalah batuan reservoir.
Batuan reservoir adalah wadah di bawah permukaan yang bisa mengandung minyak dan juga gas.

Kenapa batuan ini bisa menyimpan minyak dan gas?
Jawabannya adalah, karena batuan jenis ini memiliki ruangan berupa rongga-rongga atau kita sebut dengan pori-pori.
Pada dasarnya semua jenis batuan bisa menjadi “rumah” bagi minyak bumi dan gas. Tetapi hanya batuan yang memiliki kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan minyak bumi lah yang bisa menjadi tempat yang bagus untuk minyak bumi.
Oleh karena itu tidak sembarang batuan yang bisa menjadi rumah bagi minyak bumi.
Itulah mungkin alasannya mengapa para geologist dibayar mahal-mahal untuk memelototin batuan hasil coring dan logging. Karena dengan mengetahui sifat-sifat batuan itu para geologist bisa menentukan ada atau tidaknya cadangan minyak di dalam sebuah reservoir yang di eksplorasi. Dan hebatnya mereka juga bisa menghitung berapa besar cadangan minyak yang terkandung di dalam sebuah reservoir.
Jadi apakah syaratnya sebuah batuan bisa menjadi tempat bagi minyak bumi dan gas alam?
2 hal yang harus menjadi syarat utama yaitu:
porositas
permebealitas.
Dua sifat ini sangat erat berhubungan, sehingga bisa dikatakan bahwa, tanpa porositas tidak mungkin ada permebealitas.Menurut Payne (1942), perbedaan antara porositas dan permebealitas adalah : bahwa porositas menentukan jumlah cairan yang terdapat sedangkan permebealitas menentukan cairan yang dapat diproduksi.
Dengan kata lain dengan mengetahui porositas sebuah batuan seorang geologist bisa menentukan jumlah cadangan yang ada di dalam sebuah reservoir, dan dengan mengetahui permebealitas suatu batuan, dia bisa menentukan berapa jumlah minyak yang bisa diproduksi.
Porositas merupakan perbandingan volume rongga-rongga pori terhadap volume total seluruh batuan.
Sedangkan peremebealitas adalah suatu sifat batuan reservoir untuk dapat meloloskan cairan melalui pori-pori yang berhubungan, tanpa merusak partikel atau kerangka batuan tersebut.
http://fauzan291.wordpress.com/2008/12/24/batuan-reservoir-dimana-minyak-bumi-tersimpan/
Chevron Temukan Gas Alam Baru di Australia

Senin, 19 Oktober 2009 - 13:32 wib
Ade Hapsari Lestarini - Okezone
SYDNEY - Perusahaan Energi Chevron menemukan gas alam baru dari Australia Barat, penemuan ini akan membantu mendukung proyek gas alam cair (LNG) di Lapangan Gorgon.
Seperti diketahui, Chevron, Shell, dan ExxonMobil pada bulan lalu sepakat mengembangkan lapangan Gorgon, yang menghabiskan sekira 43 miliar dolar Australia (USD39,25 miliar) pada awal fase pengembangan sumber daya dan menjadi konstruksi terbesar di negara itu.
Perusahaan energi gas raksasa ini mengungkapkan bahwa telah ditemukan sumur eksplorasi yang terletak sekira 160 kilometer (100 mil) lepas pantai di sekira 100 meter (330 kaki) dari 4.500 meter dibor dalam Achilles-1.
"Keberhasilan program pengeboran ini akan memberikan tambahan gas alam untuk mendasari proyek Gorgon dan Wheatstone," ungkap Direktur Chevron Australia Krzywosinski Roy, dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Senin (19/10/2009).
Proyek The Gorgon ini diharapkan akan mulai produksi pada 2014, yang dirancang untuk menjadi sumber energi penting bagi perekonomian negara berkembang di Asia.
Hal ini sudah didukung dengan adanya penawaran kontrak dengan China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang digabung senilai 145 miliar dolar Australia.
Chevron memiliki 50 persen saham di Gorgon dan akan mengoperasikan pabriknya, dengan ExxonMobil dan Shell masing-masing memegang saham 25 persen.SYDNEY - Perusahaan Energi Chevron menemukan gas alam baru dari Australia Barat, penemuan ini akan membantu mendukung proyek gas alam cair (LNG) di Lapangan Gorgon.
Seperti diketahui, Chevron, Shell, dan ExxonMobil pada bulan lalu sepakat mengembangkan lapangan Gorgon, yang menghabiskan sekira 43 miliar dolar Australia (USD39,25 miliar) pada awal fase pengembangan sumber daya dan menjadi konstruksi terbesar di negara itu.
Perusahaan energi gas raksasa ini mengungkapkan bahwa telah ditemukan sumur eksplorasi yang terletak sekira 160 kilometer (100 mil) lepas pantai di sekira 100 meter (330 kaki) dari 4.500 meter dibor dalam Achilles-1.
"Keberhasilan program pengeboran ini akan memberikan tambahan gas alam untuk mendasari proyek Gorgon dan Wheatstone," ungkap Direktur Chevron Australia Krzywosinski Roy, dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Senin (19/10/2009).
Proyek The Gorgon ini diharapkan akan mulai produksi pada 2014, yang dirancang untuk menjadi sumber energi penting bagi perekonomian negara berkembang di Asia.
Hal ini sudah didukung dengan adanya penawaran kontrak dengan China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang digabung senilai 145 miliar dolar Australia.
Chevron memiliki 50 persen saham di Gorgon dan akan mengoperasikan pabriknya, dengan ExxonMobil dan Shell masing-masing memegang saham 25 persen.
http://economy.okezone.com/index.php/read/2009/10/19/213/267009/chevron-temukan-gas-alam-baru-di-australia
Harga Minyak Terus Turun, Baik atau Buruk?

Harga Minyak Terus Turun, Baik atau Buruk?
Kamis, 16 Oktober 2008 - 16:32 wib
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Selain mengamati pergerakan pasar saham yang terus menurun, mata dunia saat ini juga menyoroti terus turunnya harga minyak dunia.
Dalam tiga bulan ini, harga emas hitam itu telah turun hingga 45 persen, dari sekira USD147 per barel pada Juli lalu. Harga minyak sempat menyentuh USD72 per barel pada Rabu 15 Oktober kemarin.
Apakah turunnya harga minyak ini pertanda bagus? Bagi para konsumen tentu iya. Namun bagi negara-negara kaya produsen minyak, tentu sebaliknya. Kalangan analis menyebut, negara-negara produsen telah gagal memprediksi seberapa cepat harga minyak akan turun. Beberapa bulan lalu, bahkan, banyak yang menyebut harga minyak bakal menembus USD200 per barel.
"Analis sangat terkejut dengan volatilitas penurunan harga ini," kata David Fyfe, analis perminyakan senior untuk International Energy Agency di Paris.
Sejak harga minyak menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya awal tahun ini, Amerika -yang mengonsumsi satu-seperempat energi di dunia- mulai melakukan penghematan. Ketika harga bensin dijual di atas USD4 per galon, konsumen Amerika mulai mengurangi konsumsi mereka.
Bagi negara-negara yang kaya minyak, merosotnya harga minyak merupakan kerugian besar. Saat harga minyak mulai melambung, pemerintah dan perusahaan-perusahaan minyak raksasa mengucurkan miliaran dolar untuk mengeksplorasi dan mengembangkan ladang-ladang baru di Rusia, Angola, Meksiko, Brasil, dan Saudi Arabia.
Karena itulah mereka pantas khawatir. Modal dan investasi besar yang sudah dikucurkan, dengan harapan tingginya return dari kenaikan harga minyak, ternyata tak sesuai dengan harapan.
Apalagi, potensi turunnya harga minyak masih akan terus terjadi. Harga si emas hitam bisa terus turun hingga level USD50 per barel, jika pasar kredit masih tetap seret.
"Kami yakin semakin dalamnya krisis sektor perbankan dan perlambatan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi global akan semakin memberikan tekanan dan menurunkan harga komoditas," sebut Deutsche Bank dalam laporan yang dilansir awal pekan ini.
Sementara itu, bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah akan berada di level USD75 pada kuartal keempat dan USD70 pada akhir tahun.
"Bahkan jika krisis keuangan dan ekonomi terus mengganggu permintaan, harga minyak dapat turun lebih rendah mencapai USD50 per barel," sebut Goldman Sachs. Penentuan angka prediksi itu mempertimbangkan biaya operasional rata-rata perusahaan minyak dunia.
Lain dari pada itu, di negara-negara net importer seperti Indonesia, turunnya harga minyak ini diharapkan berefek pada penurunan harga bahan bakar minyak yang dinaikkan pada Mei lalu.
Langkah menurunkan harga BBM sudah dilakukan Malaysia, merespons semakin rendahnya harga minyak mentah. Namun sayangnya harapan serupa tidak dapat dinikmati di Indonesia hingga akhir tahun ini.
Menurut pemerintah, Indonesian Crude Price (ICP) tidak mungkin berada di bawah USD95 per barel tahun, sehingga harga BBM juga tidak mungkin turun.
"Rata-rata ICP harus USD95 per barel dalam tahun ini dan itu agak sulit dicapai dalam tiga bulan ke depan. Saat ini, harganya saja USD108,72 per barel," ujar Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo, Rabu kemarin
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/16/277/154686/harga-minyak-terus-turun-baik-atau-buruk
Sabtu, 09 Januari 2010
Eksplorasi Abiogenic Oil
Barangkali masih ingat pelajaran Kimia saat SMA dulu, katalisator adalah zat yang membantu mempercepat suatu reaksi kimia. Sintesis FT adalah paradigma anorganik, jelas tak bisa dikaitkan ke analisis tipe kerogen, TOC, rock-eval pyrolysis. Kalau di lingkungan geotektonik, bahan bakunya hanya CO atau CO2 hasil dekarbonasi karbonat yang masuk ke wilayah termal tinggi dan H dari proses serpentinisasi peridotit yang dibantu air laut.
Bagaimana melakukan peringkat prospek dan menghitung GCF-nya ? Tentu akan lain sekali dengan paradigma organik, juga menghitung volumetriknya. Belum ada yang spesifik tentang hal ini, tetapi yang saya bayangkan adalah menghitung : ketebalan karbonat, domain termal, berapa mudah degradasi termal karbonat, dll. Perangkap, reservoir, penyekat, dan jalur migrasi bisa sama dengan paradigma organik, yang berbeda hanya source rock dan proses maturasi serta ekspulsinya.
Dalam siklus Wilson, kebanyakan sintesis FT di lingkungan geotektonik ini yaitu pada tahapan subduction dan collision, dengan syarat ada lapisan karbonat tebal yang masuk ke zone collision dan subduction. Di Indonesia Timur, kandidat seperti itu banyak terjadi. Kalau benar terjadi, generated hydrocarbons-nya akan masuk ke pro-foreland basin atau retro-foreland basin hasil collision.
Sedikit lebih detail lagi adalah seperti di bawah ini.
Sintesis Fischer-Tropsch (FT) (Fischer dan Tropsch, 1923) merupakan suatu sintesis teknik kimia yang menghasilkan hidrokarbon sintetik dari gas-gas carbon monoxide atau carbon dioxide dan hidrogen dengan menggunakan katalis metallic iron atau iron-oxide. Hidrokarbon sintetik ini wujudnya bisa seperti gas, minyak maupun lilin - persis seperti hidrokarbon organic dari pematangan kerogen. Jerman dalam PD II membuat hidrokarbon sintetik ini, setahunnya bisa tujuh juta barel dihasilkan atau satu juta ton setahun. Tahun 1980, sebuah perusahaan di Afrika Selatan mampu membuat minyak sintetik melalui sintesis FT 127,000 bbl/hari. .
Proses F-T synthesis seperti fotosintesis yaitu menghasilkan senyawa organic melalui hidrogenasi (penambahan gugus H) secara katalitik (menggunakan katalisator) dan melakukan polimerisasi reduktif carbon monoxide atau carbon dioxide. Untuk membuat senyawa yang mirip campuran hidrokarbon, ikatan carbon-oxygen harus dilepaskan dulu dan menggantinya dengan ikatan carbon-carbon atau carbon-hydrogen melalui hidrogenasi. Katalis yang digunakan untuk keperluan ini umumnya logam Golongan 8 (besi, kobal, nikel, platina, dll) atau oksidanya.

Kondisi-kondisi FT synthesis ini bisa terjadi di alam. Bahan dasar dan energi yang dibutuhkan sintesis FT berlimpah di Bumi (CO2 atau CO, hydrogen, dan metallic iron atau iron oxide; dan bahang/panas).
Di Bumi, CO2 tersimpan dalam bentuk batuan karbonat, dulunya asal CO2 ini dari atmosfer purba. Simpanan CO2 di batuan karbonat ini 10.000 kali lebih banyak daripada yang ada di atmosfer. Simpanan CO2 di dalam batuan ini akan dibebaskan kembali melalui metamorfisme dan dekarbonasi. Temperatur yang diperlukan untuk decarbonation terdapat di wilayah2 subduction, intrusi magmatik, dan rifting. Dekarbonasi ini akan menghasilkan CO2 yang naik dari tempat dalam ke wilayah-wilayah accretionary prisms, backarc basins, foreland basin di collision zone, baik dengan atau tanpa aktivitas volkanisme.
Dari mana sumber hidrogen untuk keperluan hidrogenasi ? Dari serpentinisasi of peridotites/ophiolites. Peridotites yang berubah menjadi serpentinites akan melepaskan hidrogen dengan bantuan air pada temperatur di bawah 500° C. Bukti ini ditemukan pada proses serpentinisasi dalam berbagai temperatur di air sepanas 400° C yang keluar dari hydrothermal vents di East Pacific Rise. Sejumlah hidrogen juga telah ditemukan terbentuk di kompleks peridotit Oman ophiolites (Neal and Stanger, 1983). Dalam percobaan di laboratorium pun ditemukan bahwa hidrogen digenerasikan selama Janecky dan Seyfriend (1986) ketika mereka menggunakan airlaut untuk meng-serpentinisasi oceanic peridotites pada temperatur 200° and 300° C dan tekanan 500 bars.
Metallic iron-yang merupakan katalis utama F-T tak banyak terdapat di Bumi, dan walaupun ada cepat mengalami peracunan oleh sulfide, sulfate, dan chloride ions. Tetapi, catalysts F-T synthesis dapat juga dilakukan oleh iron oxides magnetite dan hematite yang lebih berlimpah kberadaannya dan kurang terpengaruh oleh sulfur poisoning daripada metallic iron.
Szatmari (Szatmari, 1989), ahli dari Petrobras yang telah banyak melakukan penelitian sistem hidrokarbon anorganik, melakukan eksperimen sintesis FT dan menunjukkan bahwa serpentinisasi dalam lingkungan yang kaya CO2 menghasilkan partial conversion CO2 menjadi hydrocarbons, khsusnya metana. methane. Pembentukan hidrokarbon menggunakan F-T synthesis bisa terjadi selama lithospheric plate interaction.
Lingkungan geotektonik yang paling sesuai untuk sintesis FT adalah subduction and collision zones in sebab subducted sediments-nya banyak mengandung carbonates atau ophiolite sheet-nya rebah (overthrusting) di atas karbonat. Air dan degassed carbon dioxide karena panas, naik dari subducted sediments sepanjang dasar ophiolites, menimbulakn kondisi serpentinisasi, reducsi H2O dan CO2, and sintesisnya menuu hydrocarbons. Berat ophiolite thrust sheets membantu migrasi fluida yang dihasilkan. Keberadaan vertical faults sebagai conduits cukup penting.
http://geologi.iagi.or.id/2008/06/12/eksplorasi-abiogenic-oil/
Bagaimana melakukan peringkat prospek dan menghitung GCF-nya ? Tentu akan lain sekali dengan paradigma organik, juga menghitung volumetriknya. Belum ada yang spesifik tentang hal ini, tetapi yang saya bayangkan adalah menghitung : ketebalan karbonat, domain termal, berapa mudah degradasi termal karbonat, dll. Perangkap, reservoir, penyekat, dan jalur migrasi bisa sama dengan paradigma organik, yang berbeda hanya source rock dan proses maturasi serta ekspulsinya.
Dalam siklus Wilson, kebanyakan sintesis FT di lingkungan geotektonik ini yaitu pada tahapan subduction dan collision, dengan syarat ada lapisan karbonat tebal yang masuk ke zone collision dan subduction. Di Indonesia Timur, kandidat seperti itu banyak terjadi. Kalau benar terjadi, generated hydrocarbons-nya akan masuk ke pro-foreland basin atau retro-foreland basin hasil collision.
Sedikit lebih detail lagi adalah seperti di bawah ini.
Sintesis Fischer-Tropsch (FT) (Fischer dan Tropsch, 1923) merupakan suatu sintesis teknik kimia yang menghasilkan hidrokarbon sintetik dari gas-gas carbon monoxide atau carbon dioxide dan hidrogen dengan menggunakan katalis metallic iron atau iron-oxide. Hidrokarbon sintetik ini wujudnya bisa seperti gas, minyak maupun lilin - persis seperti hidrokarbon organic dari pematangan kerogen. Jerman dalam PD II membuat hidrokarbon sintetik ini, setahunnya bisa tujuh juta barel dihasilkan atau satu juta ton setahun. Tahun 1980, sebuah perusahaan di Afrika Selatan mampu membuat minyak sintetik melalui sintesis FT 127,000 bbl/hari. .
Proses F-T synthesis seperti fotosintesis yaitu menghasilkan senyawa organic melalui hidrogenasi (penambahan gugus H) secara katalitik (menggunakan katalisator) dan melakukan polimerisasi reduktif carbon monoxide atau carbon dioxide. Untuk membuat senyawa yang mirip campuran hidrokarbon, ikatan carbon-oxygen harus dilepaskan dulu dan menggantinya dengan ikatan carbon-carbon atau carbon-hydrogen melalui hidrogenasi. Katalis yang digunakan untuk keperluan ini umumnya logam Golongan 8 (besi, kobal, nikel, platina, dll) atau oksidanya.

Kondisi-kondisi FT synthesis ini bisa terjadi di alam. Bahan dasar dan energi yang dibutuhkan sintesis FT berlimpah di Bumi (CO2 atau CO, hydrogen, dan metallic iron atau iron oxide; dan bahang/panas).
Di Bumi, CO2 tersimpan dalam bentuk batuan karbonat, dulunya asal CO2 ini dari atmosfer purba. Simpanan CO2 di batuan karbonat ini 10.000 kali lebih banyak daripada yang ada di atmosfer. Simpanan CO2 di dalam batuan ini akan dibebaskan kembali melalui metamorfisme dan dekarbonasi. Temperatur yang diperlukan untuk decarbonation terdapat di wilayah2 subduction, intrusi magmatik, dan rifting. Dekarbonasi ini akan menghasilkan CO2 yang naik dari tempat dalam ke wilayah-wilayah accretionary prisms, backarc basins, foreland basin di collision zone, baik dengan atau tanpa aktivitas volkanisme.
Dari mana sumber hidrogen untuk keperluan hidrogenasi ? Dari serpentinisasi of peridotites/ophiolites. Peridotites yang berubah menjadi serpentinites akan melepaskan hidrogen dengan bantuan air pada temperatur di bawah 500° C. Bukti ini ditemukan pada proses serpentinisasi dalam berbagai temperatur di air sepanas 400° C yang keluar dari hydrothermal vents di East Pacific Rise. Sejumlah hidrogen juga telah ditemukan terbentuk di kompleks peridotit Oman ophiolites (Neal and Stanger, 1983). Dalam percobaan di laboratorium pun ditemukan bahwa hidrogen digenerasikan selama Janecky dan Seyfriend (1986) ketika mereka menggunakan airlaut untuk meng-serpentinisasi oceanic peridotites pada temperatur 200° and 300° C dan tekanan 500 bars.
Metallic iron-yang merupakan katalis utama F-T tak banyak terdapat di Bumi, dan walaupun ada cepat mengalami peracunan oleh sulfide, sulfate, dan chloride ions. Tetapi, catalysts F-T synthesis dapat juga dilakukan oleh iron oxides magnetite dan hematite yang lebih berlimpah kberadaannya dan kurang terpengaruh oleh sulfur poisoning daripada metallic iron.
Szatmari (Szatmari, 1989), ahli dari Petrobras yang telah banyak melakukan penelitian sistem hidrokarbon anorganik, melakukan eksperimen sintesis FT dan menunjukkan bahwa serpentinisasi dalam lingkungan yang kaya CO2 menghasilkan partial conversion CO2 menjadi hydrocarbons, khsusnya metana. methane. Pembentukan hidrokarbon menggunakan F-T synthesis bisa terjadi selama lithospheric plate interaction.
Lingkungan geotektonik yang paling sesuai untuk sintesis FT adalah subduction and collision zones in sebab subducted sediments-nya banyak mengandung carbonates atau ophiolite sheet-nya rebah (overthrusting) di atas karbonat. Air dan degassed carbon dioxide karena panas, naik dari subducted sediments sepanjang dasar ophiolites, menimbulakn kondisi serpentinisasi, reducsi H2O dan CO2, and sintesisnya menuu hydrocarbons. Berat ophiolite thrust sheets membantu migrasi fluida yang dihasilkan. Keberadaan vertical faults sebagai conduits cukup penting.
http://geologi.iagi.or.id/2008/06/12/eksplorasi-abiogenic-oil/
Eksplorasi Minyak Bumi
Eksplorasi atau pencarian minyak bumi merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian hidrokarbon tersebut.
Perlu diketahui bahwa minyak di dalam bumi bukan berupa wadah yang menyerupai danau, namum berada di dalam pori-pori batuan bercampur bersama air. Ilustrasinya seperti gambar di bawah ini

Kajian Geologi
Secara ilmu geologi, untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:
* Batuan Sumber (Source Rock)
Yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih. batuan ini kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang - cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon.
* Tekanan dan Temperatur
Untuk mengubah fosil tersebut menjadi hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.
* Migrasi
Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.
* Reservoar
Adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.
* Perangkap (Trap)
Sangat penting suatu reservoar di lindungi oleh batuan perangkap. tujuannya agar hidrokarbon yang ada di reservoar itu terakumulasi di tempat itu saja. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali. Perangkap dalam hidrokarbon terbagi 2 yaitu perangkap struktur dan perangkap stratigrafi.
Kajian geologi merupakan kajian regional, jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Jika semua kriteria di atas terpenuhi maka daerah tersebut kemungkinan mempunyai potensi minyak bumi atau pun gas bumi. Sedangkan untuk menentukan ekonomis atau tidaknya diperlukan kajian yang lebih lanjut yang berkaitan dengan sifat fisik batuan. Maka penelitian dilanjutkan pada langkah berikutnya.
[sunting] Kajian Geofisika
setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda geologi dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi hidrokarbon, maka tahap selanjutnya adalah tahapan kajian geofisika. Pada tahapan ini metoda - metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat di ekploitasi. Data-data yang dihasilkan dari pengukuran pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakan batuan tersebut memiliki sifat - sifat sebagai batuan sumber, reservoar, dan batuan perangkap atau hanya batuan yang tidak penting dalam artian hidrokarbon. Metoda-metoda ini menggunakan prinsip-prinsip fisika yang digunakan sebagai aplikasi engineering.
Metoda tersebut adalah:
1. Eksplorasi seismik
Ini adalah ekplorasi yang dilakukan sebelum pengeboran. kajiannya meliputi daerah yang luas. dari hasil kajian ini akan didapat gambaran lapisan batuan didalam bumi.
2. Data resistiviti
Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan di isi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak atau gas. Membedakan kandungan fluida didalam batuan salah satunya dengan menggunakan sifat resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki nilai resistan yang rendah dibandingkan dengan minyak, demikian pula nilai resistan minyak lebih rendah dari pada gas. dari data log kita hanya bisa membedakan resistan rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida karena nilai resitan fluida berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar analisa fluida perlu kita ambil sampel fluida didalam batuan daerah tersebut sebagai acuan kita dalam interpretasi jenis fluida dari data resistiviti yang kita miliki.
3. Data porositas
4. Data berat jenis
* Data berat jenis
Data ini diambil dengan menggunakan alat logging dengan bantuan bahan radioaktif yang memancarkan sinar gamma. Pantulan dari sinar ini akan menggambarkan berat jenis batuan. Dapat kita bandingkan bila pori batuan berisi air dengan batuan berisi hidrokarbon akan mempunyai berat jenis yang berbeda
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_minyak_bumi
Perlu diketahui bahwa minyak di dalam bumi bukan berupa wadah yang menyerupai danau, namum berada di dalam pori-pori batuan bercampur bersama air. Ilustrasinya seperti gambar di bawah ini

Kajian Geologi
Secara ilmu geologi, untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:
* Batuan Sumber (Source Rock)
Yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih. batuan ini kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang - cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon.
* Tekanan dan Temperatur
Untuk mengubah fosil tersebut menjadi hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.
* Migrasi
Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.
* Reservoar
Adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.
* Perangkap (Trap)
Sangat penting suatu reservoar di lindungi oleh batuan perangkap. tujuannya agar hidrokarbon yang ada di reservoar itu terakumulasi di tempat itu saja. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali. Perangkap dalam hidrokarbon terbagi 2 yaitu perangkap struktur dan perangkap stratigrafi.
Kajian geologi merupakan kajian regional, jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Jika semua kriteria di atas terpenuhi maka daerah tersebut kemungkinan mempunyai potensi minyak bumi atau pun gas bumi. Sedangkan untuk menentukan ekonomis atau tidaknya diperlukan kajian yang lebih lanjut yang berkaitan dengan sifat fisik batuan. Maka penelitian dilanjutkan pada langkah berikutnya.
[sunting] Kajian Geofisika
setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda geologi dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi hidrokarbon, maka tahap selanjutnya adalah tahapan kajian geofisika. Pada tahapan ini metoda - metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat di ekploitasi. Data-data yang dihasilkan dari pengukuran pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakan batuan tersebut memiliki sifat - sifat sebagai batuan sumber, reservoar, dan batuan perangkap atau hanya batuan yang tidak penting dalam artian hidrokarbon. Metoda-metoda ini menggunakan prinsip-prinsip fisika yang digunakan sebagai aplikasi engineering.
Metoda tersebut adalah:
1. Eksplorasi seismik
Ini adalah ekplorasi yang dilakukan sebelum pengeboran. kajiannya meliputi daerah yang luas. dari hasil kajian ini akan didapat gambaran lapisan batuan didalam bumi.
2. Data resistiviti
Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan di isi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak atau gas. Membedakan kandungan fluida didalam batuan salah satunya dengan menggunakan sifat resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki nilai resistan yang rendah dibandingkan dengan minyak, demikian pula nilai resistan minyak lebih rendah dari pada gas. dari data log kita hanya bisa membedakan resistan rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida karena nilai resitan fluida berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar analisa fluida perlu kita ambil sampel fluida didalam batuan daerah tersebut sebagai acuan kita dalam interpretasi jenis fluida dari data resistiviti yang kita miliki.
3. Data porositas
4. Data berat jenis
* Data berat jenis
Data ini diambil dengan menggunakan alat logging dengan bantuan bahan radioaktif yang memancarkan sinar gamma. Pantulan dari sinar ini akan menggambarkan berat jenis batuan. Dapat kita bandingkan bila pori batuan berisi air dengan batuan berisi hidrokarbon akan mempunyai berat jenis yang berbeda
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_minyak_bumi
Peluang Investasi Energi Di Indonesia Terbuka

JAKARTA - Peluang investasi di bidang energi dan sumber daya mineral dan gas masih sangat terbuka di Indonesia, baik dalam bidang migas maupun kelistrikan.
Adapun dalam bidang migas, peluang tersebut berada di hulu maupun hilir, sedangkan bidang kelistrikan terfokus pada pembangkit listrik, distribusi, jasa, serta usaha pendukung.
Begitu juga halnya untuk sektor energi baru dan terbarukan, di mana pemerintah memprioritaskan biofuel, CBM, tenaga panas bumi, nuklir, tenaga surya, dan angin. Hal tersebut diutarakan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro seperti ditulis dalam situs Departemen ESDM, di Jakarta, Senin (15/9/2008).
Saat ini, pemerintah telah menerapkan program pengembangan pembangkit listrik batu bara 10 ribu MW hingga 2010 yang akan memerlukan suplai batu bara dalam jangka panjang.
Untuk itu, batu bara beserta usaha pertambangannya memiliki beberapa peluang baik di hulu seperti eksplorasi dan eksploitasi, penggalian bawah tanah, serta infrastruktur. Sedangkan di hilir mencakup proses pengolahan agar batu bara tersebut bersifat ramah lingkungan.
Sementara beberapa rancangan undang-undang dan peraturan pemerintah saat ini tengah dibahas untuk mendukung rencana tersebut.
Seperti diketahui, investasi dalam bidang energi dan sumber daya mineral telah menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Seperti tahun 2003-2007, pertumbuhan dalam bidang ini secara rata-rata meningkat hingga USD2 juta per tahun. Pemerintah memperkirakan tahun ini jumlah investasi akan mencapai USD21,74 miliar. "Dari pertambangan menyumbang hingga USD1,55 miliar," katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah pun mengembangkan beberapa insentif, antara lain melalui PP No.1/2007 mengenai fasilitas pendapatan untuk beberapa jenis usaha dalam upaya untuk menciptakan iklim investasi yang baik, menciptakan pasar migas dan mineral yang efisien, serta kesempatan yang sama untuk investasi.
http://news.okezone.com/read/2008/09/15/21/146018/21/peluang-investasi-energi-di-indonesia-terbuka
Kilang Minyak

Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik/fasilitas industri yang mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan maupun produk-produk lain yang menjadi bahan baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan dari kilang minyak antara lain: minyak bensin (gasoline), minyak disel, minyak tanah (kerosene). Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya. Selain itu, pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Proses Operasi di dalam Kilang Minyak
Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum diproses umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, minyak mentah tersebut harus diproses terlebih dahulu di dalam kilang minyak.
Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam kilang minyak tersebut, minyak mentah akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan mengubah struktur dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.
Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu:
* Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik didih; Proses ini berlangsung di Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum.
* Proses Konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan struktur senyawa hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini adalah:
* Dekomposisi dengan cara perengkahan termal dan katalis (thermal and catalytic cracking)
* Unifikasi melalui proses alkilasi dan polimerisasi
* Alterasi melalui proses isomerisasi dan catalytic reforming
* Proses Pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk menyiapkan fraksi-fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut, juga untuk diolah menjadi produk akhir.
* Formulasi dan Pencampuran (Blending), yaitu proses pencampuran fraksi-fraksi hidrokarbon dan penambahan bahan aditif untuk mendapatkan produk akhir dengan spesikasi tertentu.
* Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah, proses penghilangan air asin (sour-water stripping), proses pemerolehan kembali sulfur (sulphur recovery), proses pemanasan, proses pendinginan, proses pembuatan hidrogen, dan proses-proses pendukung lainnya.

Proses Distilasi
Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Distilasi Vacuum. Di kedua unit proses ini minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu gas, distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak tanah, minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu. Pemisahan fraksi tersebut didasarkan pada titik didihnya.Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida panas yang menguap ke atas. Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul di bagian-bagian kolom yang lebih atas.
Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti: Fluid Catalytic Cracker, dll.
Produk-produk Kilang Minyak
Produk-produk utama kilang minyak adalah:
* Minyak bensin (gasoline). Minyak bensin merupakan produk terpenting dan terbesar dari kilang minyak.
* Minyak tanah (kerosene)
* LPG (Liquified Petroleum Gas)
* Minyak distilat (distillate fuel)
* Minyak residu (residual fuel)
* Kokas (coke) dan aspal
* Bahan-bahan kimia pelarut (solvent)
* Bahan baku petrokimia
* Minyak pelumas
Kilang Minyak di Indonesia
Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak, antara lain:
* Pertamina Unit Pengolahan I Pangkalan Brandan, Sumatera Utara (Kapasitas 5 ribu barel/hari). Kilang minyak pangkalan brandan sudah ditutup sejak awal tahun 2007
* Pertamina Unit Pengolahan II Dumai/Sei Pakning, Riau (Kapasitas Kilang Dumai 127 ribu barel/hari, Kilang Sungai Pakning 50 ribu barel/hari)
* Pertamina Unit Pengolahan III Plaju, Sumatera Selatan (Kapasitas 145 ribu barel/hari)
* Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap (Kapasitas 348 ribu barel/hari)
* Pertamina Unit Pengolahan V Balikpapan, Kalimantan Timur (Kapasitas 266 ribu barel/hari)
* Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan, Jawa Barat (Kapasitas 125 ribu barel/hari)
* Pertamina Unit Pengolahan VII Sorong, Irian Jaya Barat (Kapasitas 10 ribu barel/hari)
* Pusdiklat Migas Cepu, Jawa Tengah (Kapasitas 5 ribu barel/hari)
Semua kilang minyak di atas dioperasikan oleh Pertamina.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kilang_minyak
Sekilas Tentang Minyak Bumi
Minyak mentah atau crude oil adalah cairan coklat kehijauan sampai hitam yang terutama terdiri dari karbon dan hidrogen. Teori yang paling umum digunakan untuk menjelaskan asal-usul minyak bumi adalah “organic source materials“. Teori ini menyatakan bahwa minyak bumi merupakan produk perubahan secara alami dari zat-zat organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang mengendap selama ribuan sampai jutaan tahun. Akibat dari pengaruh tekanan, temperatur, kehadiran senyawa logam dan mineral serta letak geologis selama proses perubahan tersebut, maka minyak bumi akan mempunyai komposisi yang berbeda di tempat yang berbeda.
Minyak bumi memiliki campuran senyawa hidrokarbon sebanyak 50-98% berat, sisanya terdiri atas zat-zat organik yang mengandung belerang, oksigen, dan nitrogen serta senyawa-senyawa anorganik seperti vanadium, nikel, natrium, besi, aluminium, kalsium, dan magnesium. Komposisi yang terkandung,Karbon(C)84-87%, Hydrogen(H) 11-14%, Sulfur(S)0-3%, Nitrogen(N)0-1%, Oksigen(O)0-2%,
Berdasarkan kandungan senyawanya, minyak bumi dapat dibagi menjadi golongan hidrokarbon dan non-hidrokarbon serta senyawa-senyawa logam.
A. Hirokarbon
Golongan hidrokarbon-hidrokarbon yang utama adalah parafin, olefin, naften, dan aromat.
1.Parafin
Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon jenuh berantai lurus (alkana), CnH2n+2. Contohnya adalah metana (CH4), etana (C2H6), n-butana (C4H10), isobutana (2-metil propana, C4H10), isopentana (2-metilbutana, C5H12), dan isooktana (2,2,4-trimetil pentana, C8H18). Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh lebih banyak daripada senyawa yang tergolong n-parafin. Tetapi, di dalam minyak bumi mentah, kadar senyawa isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.
2.Olefin
Olefin adalah kelompok senyawa hidrokarbon tidak jenuh, CnH2n. Contohnya etilena (C2H4), propena (C3H6), dan butena (C4H8).
3.Naftena
Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan rumus molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena yang banyak ditemukan adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon. Contohnya adalah siklopentana (C5H10), metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana (C6H12). Umumnya, di dalam minyak bumi mentah, naftena merupakan kelompok senyawa hidrokarbon yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.
4.Aromatik
Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom-atom karbon yang membentuk cincin benzen (C6H6). Contohnya benzen (C6H6), metilbenzen (C7H8), dan naftalena (C10H8). Minyak bumi dari Sumatera dan Kalimantan umumnya memiliki kadar aromat yang relatif besar.
B. Non Hidrokarbon
Selain senyawa-senyawa yang tersusun dari atom-atom karbon dan hidrogen, di dalam minyak bumi ditemukan juga senyawa non hidrokarbon seperti belerang, nitrogen, oksigen, vanadium, nikel dan natrium yang terikat pada rantai atau cincin hidrokarbon. Unsur-unsur tersebut umumnya tidak dikehendaki berada di dalam produk-produk pengilangan minyak bumi, sehingga keberadaannya akan sangat mempengaruhi langkah-langkah pengolahan yang dilakukan terhadap suatu minyak bumi.
1.Belerang
Belerang terdapat dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), belerang bebas (S), merkaptan (R-SH, dengan R=gugus alkil), sulfida (R-S-R’), disulfida (R-S-S-R’) dan tiofen (sulfida siklik). Senyawa-senyawa belerang tidak dikehendaki karena:
* menimbulkan bau tidak sedap dan sifat korosif pada produk pengolahan.
* mengurangi efektivitas zat-zat bubuhan pada produk pengolahan.
* meracuni katalis-katalis perengkahan.
* menyebabkan pencemaran udara (pada pembakaran bahan bakar minyak, senyawa belerang teroksidasi menjadi zat-zat korosif yang membahayakan lingkungan, yaitu SO2 dan SO3).
2. Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dibagi menjadi zat-zat yang bersifat basa seperti 3-metilpiridin (C6H7N) dan kuinolin (C9H7N) serta zat-zat yang tidak bersifat basa seperti pirol (C4H5N), indol (C8H7N) dan karbazol (C12H9N). Senyawa-senyawa nitrogen dapat mengganggu kelancaran pemrosesan katalitik yang jika sampai terbawa ke dalam produk, berpengaruh buruk terhadap bau, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk tersebut.
3. Oksigen
Oksigen biasanya terikat dalam gugus karboksilat dalam asam-asam naftenat (2,2,6-trimetilsikloheksankarboksilat, C10H18O2) dan asam-asam lemak (alkanoat), gugus hidroksi fenolik dan gugus keton. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah serius seperti halnya senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses katalitik.
http://rieko.wordpress.com/2009/11/26/sekilas-tentang-minyak-bumi/
Minyak bumi memiliki campuran senyawa hidrokarbon sebanyak 50-98% berat, sisanya terdiri atas zat-zat organik yang mengandung belerang, oksigen, dan nitrogen serta senyawa-senyawa anorganik seperti vanadium, nikel, natrium, besi, aluminium, kalsium, dan magnesium. Komposisi yang terkandung,Karbon(C)84-87%, Hydrogen(H) 11-14%, Sulfur(S)0-3%, Nitrogen(N)0-1%, Oksigen(O)0-2%,
Berdasarkan kandungan senyawanya, minyak bumi dapat dibagi menjadi golongan hidrokarbon dan non-hidrokarbon serta senyawa-senyawa logam.
A. Hirokarbon
Golongan hidrokarbon-hidrokarbon yang utama adalah parafin, olefin, naften, dan aromat.
1.Parafin
Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon jenuh berantai lurus (alkana), CnH2n+2. Contohnya adalah metana (CH4), etana (C2H6), n-butana (C4H10), isobutana (2-metil propana, C4H10), isopentana (2-metilbutana, C5H12), dan isooktana (2,2,4-trimetil pentana, C8H18). Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh lebih banyak daripada senyawa yang tergolong n-parafin. Tetapi, di dalam minyak bumi mentah, kadar senyawa isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.
2.Olefin
Olefin adalah kelompok senyawa hidrokarbon tidak jenuh, CnH2n. Contohnya etilena (C2H4), propena (C3H6), dan butena (C4H8).
3.Naftena
Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan rumus molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena yang banyak ditemukan adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon. Contohnya adalah siklopentana (C5H10), metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana (C6H12). Umumnya, di dalam minyak bumi mentah, naftena merupakan kelompok senyawa hidrokarbon yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.
4.Aromatik
Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom-atom karbon yang membentuk cincin benzen (C6H6). Contohnya benzen (C6H6), metilbenzen (C7H8), dan naftalena (C10H8). Minyak bumi dari Sumatera dan Kalimantan umumnya memiliki kadar aromat yang relatif besar.
B. Non Hidrokarbon
Selain senyawa-senyawa yang tersusun dari atom-atom karbon dan hidrogen, di dalam minyak bumi ditemukan juga senyawa non hidrokarbon seperti belerang, nitrogen, oksigen, vanadium, nikel dan natrium yang terikat pada rantai atau cincin hidrokarbon. Unsur-unsur tersebut umumnya tidak dikehendaki berada di dalam produk-produk pengilangan minyak bumi, sehingga keberadaannya akan sangat mempengaruhi langkah-langkah pengolahan yang dilakukan terhadap suatu minyak bumi.
1.Belerang
Belerang terdapat dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), belerang bebas (S), merkaptan (R-SH, dengan R=gugus alkil), sulfida (R-S-R’), disulfida (R-S-S-R’) dan tiofen (sulfida siklik). Senyawa-senyawa belerang tidak dikehendaki karena:
* menimbulkan bau tidak sedap dan sifat korosif pada produk pengolahan.
* mengurangi efektivitas zat-zat bubuhan pada produk pengolahan.
* meracuni katalis-katalis perengkahan.
* menyebabkan pencemaran udara (pada pembakaran bahan bakar minyak, senyawa belerang teroksidasi menjadi zat-zat korosif yang membahayakan lingkungan, yaitu SO2 dan SO3).
2. Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dibagi menjadi zat-zat yang bersifat basa seperti 3-metilpiridin (C6H7N) dan kuinolin (C9H7N) serta zat-zat yang tidak bersifat basa seperti pirol (C4H5N), indol (C8H7N) dan karbazol (C12H9N). Senyawa-senyawa nitrogen dapat mengganggu kelancaran pemrosesan katalitik yang jika sampai terbawa ke dalam produk, berpengaruh buruk terhadap bau, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk tersebut.
3. Oksigen
Oksigen biasanya terikat dalam gugus karboksilat dalam asam-asam naftenat (2,2,6-trimetilsikloheksankarboksilat, C10H18O2) dan asam-asam lemak (alkanoat), gugus hidroksi fenolik dan gugus keton. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah serius seperti halnya senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses katalitik.
http://rieko.wordpress.com/2009/11/26/sekilas-tentang-minyak-bumi/
Sifat - Sifat Hidrokarbon
Hidrokarbon seperti halnya senyawa-senyawa lain memiliki sifat-sifat tertentu baik itu sifat-sifat fisis maupun sifat kimia.
1) Sifat-sifat fisis
a. Titik leleh dan titik didih
Pada hidrokarbon, semakin besar massa molekul relative (makin panjang rantainya) titik didih, titik leleh, dan massa jenisnya semakin tinggi. Pada suhu kamar C1-C4 berwujud gas, C5-C17 berwujud cair dan rantai C selanjutnya berbentuk padat. Isomer yang memiliki cabang akan memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih rendah.
b. Kelarutan dalam air
Semua hidrokarbon sukar larut dalam pelarut air, tetapi mudah larut dalam pelarut nonpolar seperti CCl4
2) Sifat Kimia
Sifat kimia berkaitan dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi
1) Reaksi-reaksi pada Alkana
Alkana adalah zat yang sukar bereaksi sehingga disebut paraffin, artinya memiliki afinitas kecil. Pada alkana reaksi-reaksi penting yang terjadi adalah
a. Pembakaran
Alkana akan mengalami pembakaran menjadi CO2 dan H2O jika terjadi pembakaran sempurna. Jika pembakarannya tidak sempurna dihasilkan CO, partikel karbon dan H2O

A. Sifat-sifat fisis
Tergolong pembakaran sempurna

Tergolong pembakaran tidak sempurna
b. Substitusi
Substitusi adalah reaksi penggantian atom H dengan atom gugus lain. Salah satu reaksi substitusi yang biasa terjadi adalah halogenasi yakni pergantian atom H oleh atom-atom halogen (F2, Cl2, Br2, dan I2).
Contoh
Klorinasi (penggantian H dengan Klorin) pada metana

c. Perengkahan atau cracking
Reaksi perengkahan adalah pemotongan rantai karbon menjadi potongan-potongan yang lebih kecil
Contoh:

2) Reaksi-reaksi Alkena
Alkena dapat mengalami reaksi-reaksi sebagai berikut
a. Pembakaran
Sama dengan alkana, alkena juga dapat mengalami pembakaran yang menghasilkan CO2 dan H2O (jika merupakan pembakaran sempurna)

b. Adisi
Adisi menghasilkan rekasi penjenuhan ikatan rangkap

c. Polimerisasi
Polimerisasi adalah penggabungan molekul sderhana (monomer) menjadi molekul besar (polimer)

d. Substitusi
Pada alkena reaksi substitusi yang diperkenalkan adalah halogenasi yakni penggantian atom H dengan atom Halogen seperti F, Cl, Br, dan I

3) Reaksi-reaksi Alkuna
Alkuna mengalami reaksi-reaksi seperti halnya alkena. Salah satu yang terpenting adalah adisi.
Contoh

http://kimiakoloid.com/blog/?cat=12
1) Sifat-sifat fisis
a. Titik leleh dan titik didih
Pada hidrokarbon, semakin besar massa molekul relative (makin panjang rantainya) titik didih, titik leleh, dan massa jenisnya semakin tinggi. Pada suhu kamar C1-C4 berwujud gas, C5-C17 berwujud cair dan rantai C selanjutnya berbentuk padat. Isomer yang memiliki cabang akan memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih rendah.
b. Kelarutan dalam air
Semua hidrokarbon sukar larut dalam pelarut air, tetapi mudah larut dalam pelarut nonpolar seperti CCl4
2) Sifat Kimia
Sifat kimia berkaitan dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi
1) Reaksi-reaksi pada Alkana
Alkana adalah zat yang sukar bereaksi sehingga disebut paraffin, artinya memiliki afinitas kecil. Pada alkana reaksi-reaksi penting yang terjadi adalah
a. Pembakaran
Alkana akan mengalami pembakaran menjadi CO2 dan H2O jika terjadi pembakaran sempurna. Jika pembakarannya tidak sempurna dihasilkan CO, partikel karbon dan H2O

A. Sifat-sifat fisis
Tergolong pembakaran sempurna

Tergolong pembakaran tidak sempurna
b. Substitusi
Substitusi adalah reaksi penggantian atom H dengan atom gugus lain. Salah satu reaksi substitusi yang biasa terjadi adalah halogenasi yakni pergantian atom H oleh atom-atom halogen (F2, Cl2, Br2, dan I2).
Contoh
Klorinasi (penggantian H dengan Klorin) pada metana

c. Perengkahan atau cracking
Reaksi perengkahan adalah pemotongan rantai karbon menjadi potongan-potongan yang lebih kecil
Contoh:

2) Reaksi-reaksi Alkena
Alkena dapat mengalami reaksi-reaksi sebagai berikut
a. Pembakaran
Sama dengan alkana, alkena juga dapat mengalami pembakaran yang menghasilkan CO2 dan H2O (jika merupakan pembakaran sempurna)

b. Adisi
Adisi menghasilkan rekasi penjenuhan ikatan rangkap

c. Polimerisasi
Polimerisasi adalah penggabungan molekul sderhana (monomer) menjadi molekul besar (polimer)

d. Substitusi
Pada alkena reaksi substitusi yang diperkenalkan adalah halogenasi yakni penggantian atom H dengan atom Halogen seperti F, Cl, Br, dan I

3) Reaksi-reaksi Alkuna
Alkuna mengalami reaksi-reaksi seperti halnya alkena. Salah satu yang terpenting adalah adisi.
Contoh

http://kimiakoloid.com/blog/?cat=12
Pertamina EP Percepat Pencarian Cadangan Migas

JAKARTA - PT Pertamina EP memulai pelaksanaan pemboran eksplorasi tepat 1 Januari 2010. Pemboran yang dilakukan di sumur eskplorasi Pondok Makmur (PDM-05) di kompleks Pondok Makmur C.
Sumur eksplorasi tersebut adalah sumur kelima yang dibor di lokasi Pondok Makmur dengan tujuan mengkonfirmasi besarnya cadangan minyak diwilayah tersebut. Sebelumnya, Pertamina EP telah berhasil menemukan cadangan minyak dan gas di di area Pondok Makmur.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Syamsu Alam menegaskan bahwa kegiatan tajak sumur PDM-05 merupakan wujud nyata komitmen yang telah disepakati untuk melakukan pemboran satu sumur eksplorasi pada 1 Januari 2010, sekaligus merupakan upaya percepatan penemuan cadangan baru.
"Percepatan ini tidak terlepas dari dukungan kuat BPMIGAS kepada Pertamina EP melalui percepat persetujuan Work Planning & Budget (WP&B 2010) yang telah diberikan 9 Desember 2009," ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, di Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Syamsu Alam menyatakan, konfirmasi cadangan di wilayah eksplorasi merupakan kegiatan lanjutan setelah diketemukannya kandungan hidrokarbon. Pada 2009, Pertamina EP telah berhasil melaksanakan 18 pemboran sumur eksplorasi yang meliputi sembilan pemboran sumur eksplorasi baru atau wildcat, tujuh sumur deliniasi, dan dua sumur re-entry. Pencapaian ini merupakan prestasi baru mengingat target yang telah ditetapkan di awal tahun hanya melaksanakan pemboran eskplorasi 12 sumur.
Dari 18 sumur 12 di antaranya telah menunjukkan adanya kandungan minyak dan gas yang cukup signifikan. Pencapaian ini merupakan optimalisasi dari target eksplorasi sehingga terdapat beberapa sumur yang seharusnya dilaksanakan pemboran pada 2010 tetapi dapat dilaksanakan di 2009. Lima sumur pemboran eksplorasi yang dipercepat pelaksanaannya berlokasi di Ginaya (Sumatera) dan empat sumur lainnya di Jawa yakni Pondok Mekar, Karang Degan, Karang Luhur, dan Akasia Bagus. Disamping itu saat ini Pertamina EP juga sedang berlangsung pemboran sembilan sumur lainnya, yang merupakan kelanjutan dari tambahan program 2009.
Kegiatan lainnya yang berhasil dilaksanakan di 2009 adalah survei sesimik 2D mencapai 1.991,2 km2 lebih tinggi daripada target sebesar 1.232 km2. Sementara untuk survei 3D saat ini telah mencapai 1.121 km2.
Pertamina EP merupakan Anak Perusahaan Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi Minyak dan Gas di dalam negeri. Pertamina EP mencatatkan pertumbuhan produksi Minyak dari tahun ke tahun yang terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata (Capital Average Gross Ratio/ CAGR) mencapai 3,1 persen dari level produksi 95,6 ribu barrel per hari (MBOPD) di 2003 menjadi 102,2 MBOPD di 2006. Produksi ini mengalami pertumbuhan 6,7 persen di 2007 menjadi 110,3 MBOPD dan kembali naik sebesar 7,8 persen di 2008 dengan produksi rata-rata 116,6 MBOPD.
Hingga akhir 2009 Pertamina EP berhasil mencapai 127 ribu barel per hari. Angka tersebut melampaui target produksi 125,5 MBOPD. Berdasarkan data BPMIGAS, saat ini Pertamina EP menempati posisi kedua dalam peringkat 10 besar produsen Minyak setelah Chevron dan juga urutan kedua Produsen Gas setelah Total Indonesia.
http://news.okezone.com/read/2010/01/05/320/291185/pertamina-ep-percepat-pencarian-cadangan-migas
Produksi Minyak Pertamina EP Capai Rekor Tertinggi

JAKARTA - Produksi minyak Pertamina EP kembali menembus rekor tertinggi sebesar 128.618 barrel per hari pada 17 Juni 2009. Jumlah itu lebih tinggi 3.118 barel dari target 2009 sebesar 125.500 barel.
"Pencapaian ini menunjukkan bahwa transformasi Pertamina EP yang kini memasuki tahap kedua dari Rencana Pembangunan Tiga Tahun (Repetita) sudah berada pada jalur yang tepat," ujar Direktur Operasi Pertamina EP Bagus Sudaryanto, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (19/6/2009).
Menurutnya, Pertamina EP akan lebih fokus untuk mempertahankan dan terus berupaya meningkatkan pertumbuhan produksi mengingat saat ini angka penurunan produksi secara alamia masih sangat tinggi yakni rata-rata sebesar 18 persen.
Pertamina (Persero) selaku induk perusahaan dan juga BP Migas selaku otorita pengawasan kegiatan hulu migas, sangat mendukung upaya-upaya transformasi Pertamina EP untuk membangun kapabilitas kelas dunia dalam peningkatan produksi minyak di dalam negeri.
Prosentase peningkatan produksi terbesar dicapai Pertamina EP kawasan Timur Indonesia yang mencapai 119 persen dari target dengan total produksi pada 17 Juni 2009 sebesar 5.951 barrel per hari, unit bisnis Limau mencapai 119 persen target dengan totak produksi 12.250 barrel per hari serta beberapa unit bisnis dan region lainnya yang berhasil memepertahankan produksi pada tingkat tertinggi.
Pertamina EP Region Jawa berhasil mempertahankan tingkat produksi di 25.503 barrel per hari, Region Sumatera dengan produksi 18.241 barrel per hari serta lapangan Sukowati yang mencapai 24.718 barrel per hari.
Untuk produksi gas Pertamina EP saat ini mencapai 1.033 juta standar kaki kubik per hari, yang merupakan produsen gas terbesar untuk kebutuhan domestik. Dari jumlah tersebut 28 persen dipasok kepada Perusahaan Gas Negara (PGN), 22 persen untuk memenuhi kebutuhan industri, 18 persen untuk industri pupuk, 18 persen untuk passokan ke pembangkit listrik, dan 14 persen lainnya untuk kebutuhan Kilang Pertamina & pemakaian sendiri
Produksi Minyak Pertamina EP terus mengalami peningkatan sejak 2003 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata (Capital Average Gross Ratio/CAGR) mencapai 3,1 persen dari level produksi 95,6 ribu barrel per hari (MBOPD) di 2003 menjadi 102,2 MBOPD di 2006. Produksi ini mengalami pertumbuhan 6,7 persen di 2007 menjadi 110,3 MBOPD dan diperkirakan akan kembali naik sebesar 7,8 persen di 2008. Produksi rata-rata Pertamina EP 2008 telah mencapai 116,6 MBOPD. Pada 2009 Pertamina EP menargetkan tingkat pertumbuhan produksi minyak sebesar 6,2 persen dengan target produksi 125,5 MBOPD.
Pertamina EP merupakan anak perusahaan Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi Minyak dan Gas di dalam negeri, sekaligus tercatat sebagai penyumbang keuntungan terbesar diantara seluruh unit bisnis dan anak perusahaan Pertamina.
http://news.okezone.com/read/2009/06/19/277/230820/277/produksi-minyak-pertamina-ep-capai-rekor-tertinggi
Teori Pembentuk Minyak Bumi
1. Teori Anorganik (Abiogenesis)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain. Secara umum dinyatakan seperti dibawah ini:
Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada proses kimia, yaitu :
a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
alkali metal + CO2 karbida
karbida + H2O ocetylena
C2H2 C6H6 komponen-komponen lain
Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)
Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak cukup banyak karbida di alam.
2.Teori Organik (Biogenesis)
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).
P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:
- Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi.
- Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb.
- Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen cukup besar.
- Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.
- Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam kambium sampai pleistosan.
- Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.
Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu:
1. Pembentukan sendiri, terdiri dari:
- pengumpulan zat organik dalam sedimen
- pengawetan zat organik dalam sedimen
- transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisansedimen terperangkap.
3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil menjadi akumulasi komersial.
Proses kimia organik pada umumnya dapat dipecahkan dengan percobaan di laboratorium, namun berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta penyebarannya didalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta ini disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai pagar Cox diantaranya adalah:
Minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan sedimen dan umumnya pada sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk minyak bumi yang terdapat di sekitar pantai.
Minyak bumi memeng merupakan campuran kompleks hidrokarbon.
Temperatur reservior rata-rata 107°C dan minyak bumi masih dapat bertahan sampai 200°C. Diatas temperatur ini forfirin sudah tidak bertahan.
Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi ditandai adanya forfirin dan belerang.
Minyak bumi dapat tahan pada perubahan tekanan dari 8-10000 psi.
Proses transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa diatas, diantaranya:
1. Degradasi thermal
Akibat sedimen terkena penimbunan dan pembanaman maka akan timbul perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang sangat penting.
2. Reaksi katalis
Adanya katalis dapat mempercepat proses kimia.
3. Radioaktivasi
Pengaruh pembombanderan asam lemak oleh partikel alpha dapay membentuk hidrokarbon parafin. Ini menunjukan pengaruh radioaktif terhadap zat organik.
4. Aktifitas bakteri.
Bakteri mempunyai potensi besar dalam proses pembentukan hidrokarbon minyak bumi dan memegang peranan dari sejak matinya senyawa organik sampai pada waktu diagnosa, serta menyiapkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya minyak bumi.
Zat organik sebagai bahan sumber
Jenis zat oragink yang dijadikan sumber minyak bumi menurut para ahli dap[at disimpulkan bahwa jenis zat organik yang merupakan zat pembentuk utama minyak bumi adalah lipidzat organik dapat terbentuk dalamkehidupan laut ataupun darat dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: yang berasal dari nabati dan hewani.
http://mochijar.blogspot.com/2009/02/proses-pembentukan-minyak-bumi.html
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain. Secara umum dinyatakan seperti dibawah ini:
Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada proses kimia, yaitu :
a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
alkali metal + CO2 karbida
karbida + H2O ocetylena
C2H2 C6H6 komponen-komponen lain
Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)
Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak cukup banyak karbida di alam.
2.Teori Organik (Biogenesis)
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).
P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:
- Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi.
- Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb.
- Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen cukup besar.
- Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.
- Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam kambium sampai pleistosan.
- Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.
Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu:
1. Pembentukan sendiri, terdiri dari:
- pengumpulan zat organik dalam sedimen
- pengawetan zat organik dalam sedimen
- transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisansedimen terperangkap.
3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil menjadi akumulasi komersial.
Proses kimia organik pada umumnya dapat dipecahkan dengan percobaan di laboratorium, namun berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta penyebarannya didalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta ini disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai pagar Cox diantaranya adalah:
Minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan sedimen dan umumnya pada sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk minyak bumi yang terdapat di sekitar pantai.
Minyak bumi memeng merupakan campuran kompleks hidrokarbon.
Temperatur reservior rata-rata 107°C dan minyak bumi masih dapat bertahan sampai 200°C. Diatas temperatur ini forfirin sudah tidak bertahan.
Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi ditandai adanya forfirin dan belerang.
Minyak bumi dapat tahan pada perubahan tekanan dari 8-10000 psi.
Proses transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa diatas, diantaranya:
1. Degradasi thermal
Akibat sedimen terkena penimbunan dan pembanaman maka akan timbul perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang sangat penting.
2. Reaksi katalis
Adanya katalis dapat mempercepat proses kimia.
3. Radioaktivasi
Pengaruh pembombanderan asam lemak oleh partikel alpha dapay membentuk hidrokarbon parafin. Ini menunjukan pengaruh radioaktif terhadap zat organik.
4. Aktifitas bakteri.
Bakteri mempunyai potensi besar dalam proses pembentukan hidrokarbon minyak bumi dan memegang peranan dari sejak matinya senyawa organik sampai pada waktu diagnosa, serta menyiapkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya minyak bumi.
Zat organik sebagai bahan sumber
Jenis zat oragink yang dijadikan sumber minyak bumi menurut para ahli dap[at disimpulkan bahwa jenis zat organik yang merupakan zat pembentuk utama minyak bumi adalah lipidzat organik dapat terbentuk dalamkehidupan laut ataupun darat dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: yang berasal dari nabati dan hewani.
http://mochijar.blogspot.com/2009/02/proses-pembentukan-minyak-bumi.html
Potensi Blok 47 Modco di Libiya

JAKARTA - PT Medco Energi Internasional Tbk optimistis potensi produksi minyak mentah blok minyak 47 di Libya mencapai 75.000 barel per hari.
"Kami optimistis dengan adanya temuan kandungan, potensi di sana dapat mencapai 75.000 bph," kata Direktur Pertumbuhan MedcoEnergi Rashid Mangunkusumo di Jakarta, Selasa (5/2/2008).
Medco Energi melalui anak perusahaannya, International Ventures Limited (MIV) memenangkan tender konsesi blok 47 di Libya. Sejak melakukan eksplorasi pada 2005, Verenex Energy Inc selaku operator pengeboran yang menjadi mitra kerja MIV telah melakukan pengeboran enam sumur eksplorasi new field wildcat dan dua sumur kajian (appraisal well).
Verenex menginformasikan adanya jebakan hidrokarbon dalam jumlah besar di sumur kajian A2-47/02 pada formasi Lower Acacus yang berlokasi di barat daya Blok 47.
Rashid mengatakan, secara keseluruhan enam sumur eksplorasi telah diuji jumlah agregat alirannya. Hasil pengujian ini mencatat potensi produksi minyak mentah di blok tersebut melebihi 75.000 bph. Sementara pengujian aliran untuk sumur ke-7 baru diselesaikan. Hasilnya akan dipublikasikan setelah mendapat persetujuan dari Libyan National Oil Company.
"Kami sangat gembira dengan laporan Verenex yang mengonfirmasikan potensi jebakan hidrokarbon yang besar pada sumur kajian A2-47/02. Rangkaian pengujian enam buah sumur eksplorasi dan dua sumur kajian terus membuahkan hasil yang positif. Kami dapat merencanakan tahap pengembangan di Area 47," ungkap Rashid.
Medco berharap pada 2008 akan ditemukan potensi lebih besar setelah hasil interpretasi dari seismic 3D di tahun 2007 dan tambahan seismic 2D yang sedang dilakukan. Selain itu, Verenex juga bekerjasama dengan pihak ketiga untuk menilai sumberdaya yang sudah ditemukan dan prospektif di Blok 47. Penilaian ini tengah berlangsung untuk mendukung valuasi operator dan aplikasi komersial untuk fase produksi. ''Penilaian ini diharapkan dapat selesai pada akhir kwartal I 2008,'' kata Rashid.
Corporate Secretary Medco Energi Cisca W Alimin mengatakan laporan kajian awal telah disampaikan kepada Area 47 Management Committe dan NOC untuk penemuan minyak di A1, B1, C1 dan D1-47/02. Laporan untuk E1 dan F1 masih dalam tahap persiapan. Penyelesaian program akan membuka jalan untuk permintaan komersil yang ditargetkan pada pertengahan 2008. "Ini merupakan langkah awal untuk meningkat ke tahap pengembangan dari proyek," terangnya.
Dilanjutkannya, operator telah mengeluarkan permintaan untuk tender Front End Engineering and Design ("FEED") bagi saluran pengumpul, pipa minyak untuk ekspor, fasilitas processing untuk kebutuhan awal fase produksi, dan diharapkan pada bulan Februari ini kontrak FEED dapat diberikan kepada kontraktor pemenang. Hasil dari pekerjaan FEED akan menjadi bagian dari commerciality application.
Verenex adalah perusahaan eksplorasi dan produksi migas bumi internasional yang berbasis di Kanada. Sebagai Operator, Verenex memiliki 50 persen saham di Blok 47 dan sisanya dimiliki MIV. Sementara Medco Energi adalah perusahaan terbuka di Indonesia yang memiliki kelompok usaha terpadu di bidang energi dengan aktivitas produksi dan eksplorasi minyak dan gas bumi, layanan pengeboran minyak dan gas bumi, produksi methanol, produksi LPG dan pembangkit tenaga listrik. Medco memiliki operasi di beberapa area di Indonesia, Oman, Libya dan Teluk Mexico di Amerika Serikat.
http://autos.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/02/05/19/81193/19/potensi-blok-47-medco-di-libya-75-ribu-bph
Proses terbentuknya minyak bumi
A.Terjadinya Minyak da Gas bumi
Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu :
1. Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.
2. Adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
3. Adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. jika jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.
B. Komponen-komponen pembentuk Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas: 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H).Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Ada 4 macam jenis-jenis yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu:
1. young-shallow: Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi
2. Old-shallow: Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek.
3. Young-deep: young-deep embutuhkan waktu sebentar untuk pemrosesan.
4. Old-deep: Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.
C. Waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi
Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.
Daftar Pustaka
1. Rabia H, Oilwell Drillpng engineering,1995
2. Azar j.j,Drilling in Petrolium manual,1960
Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu :
1. Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.
2. Adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
3. Adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. jika jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.
B. Komponen-komponen pembentuk Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas: 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H).Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Ada 4 macam jenis-jenis yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu:
1. young-shallow: Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi
2. Old-shallow: Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek.
3. Young-deep: young-deep embutuhkan waktu sebentar untuk pemrosesan.
4. Old-deep: Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.
C. Waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi
Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.
Daftar Pustaka
1. Rabia H, Oilwell Drillpng engineering,1995
2. Azar j.j,Drilling in Petrolium manual,1960
Rabu, 06 Januari 2010
SIFAT FISIK BATUAN RESERVOIR
Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu batuan reservoir adalah harus mempunyai
kemampuan untuk menampung dan mengalirkan fluida yang terkandung di dalamnya.
Dan hal ini dinyatakan dalam bentuk permeabilitas dan porositas. Porositas dan
permeabilitas ini sangat erat hubungannya sehingga dapat dikatakan bahwa permeabilitas
adalah tidak mungkin tanpa porositas walaupun sebaliknya belum tentu demikian, karena
batuan yang bersifat porous belum tentu mempunyai sifat kelulusan terhadap fluida yang
melewatinya. Sifat-sifat batuan yang lainnya adalah : wettabilitas, tekanan kapiler,
saturasi dan kompresibilitas batuan.
I. POROSITAS
Porositas merupakan ukuran ruang-ruang kosong dalam suatu batuan. Secara definitif
porositas merupakan perbandingan antara volume ruang yang terdapat dalam batuan
yang berupa pori-pori terhadap volume batuan secara keseluruhan, biasanya dinyatakan
dalam fraksi.
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan total
(bulk volume)
2. Porositas efektif, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap
volume batuan total (bulk volume).
Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen
diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.
Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah batuan
konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat diklasifikasikan
menjadi 3 golongan , yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan,
sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan secara
kuantitatif karena bentuknya tidak teratur.
3. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2)
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas yang lebih
besar dari pada batugamping sendiri.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran butir
(semakin baik distribusinya, semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir
berbentuk kubus mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk rhombohedral),
kompaksi, dan sementasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas antara lain :
- Ukiran butir atau grain size
Semakin kecil ukuran butir maka rongga yang terbentuk akan semakin kecil pula
dan sebaliknya jika ukuran butir besar maka rongga yang terbentuk juga semakin
besar.
- Bentuk butir atau sphericity
Batuan dengan bentuk butir jelek akan memiliki porositas yang besar, sedangkan
kalau bentuk butir baik maka akan memiliki porositas yang kecil.
- Susunan butir
Apabila ukuran butirnya sama maka susunan butir sama dengan bentuk kubus dan
mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk rhombohedral.
- Pemilahan
Apabila butiran baik maka ada keseragaman sehingga porositasnya akan baik pula.
Pemilahan yang jelek menyebabkan butiran yang berukuran kecil akan menempati
rongga diantara butiran yang lebih besar akibatnya porositasnya rendah.
- Komposisi mineral
Apabila penyusun batuan terdiri dari mineral-mineral yang mudah larut seperti
golongan karbonat maka porositasnya akan baik karena rongga-rongga akibat
proses pelarutan dari batuan tersebut.
- Sementasi
Material semen pada dasarnya akan mengurangi harga porositas. Material yang
dapat berwujud semen adalah silika, oksida besi dan mineral lempung.
- Kompaksi dan pemampatan
Adanya kompaksi dan pemampatan akan mengurangi harga porositas. Apabila
batuan terkubur semakin dalam maka porositasnya akan semakin kecil yang
diakibatkan karena adanya penambahan beban.
Pengukuran porositas dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:
1. Pengukuran laboratorium dengan menggunakan sampel batuan (core).
2. Pengukuran dengan menggunakan logging tool, seperti neutron log, density log dan
sonic log.
Pengukuran porositas dilaboratorium akan dijelaskan pada bab ini sedangkan
pengukuran dengan log akan dijelaskan pada bab berikutnya. Pengukuran di lab
mengunakan sampel batuan yang sering disebut dengan sampel core, sampel core dapat
diperoleh pada waktu pengeboran.
Terdapat tiga besaran yang dapat diukur di laboratorium, yaitu: volume total, volume
pori dan volume butiran. Untuk perhitungan porositas hanya diperlukan dua antaranya,
pengukuran ketiga-tiganya hanya diperlukan untuk cross cek saja.
Volume total batuan/core sebenarnya dapat diukur dengan mengukur dimensinya kalau
saja bentuk sampel batuan tersebut beraturan seperti kubus, silinder. Untuk bentuk yang
tidak beraturan dimana pengukuran dimensi tidak dimungkinkan, maka pengukuran
dapat dilakukan dengan mengukur volume cairan yang terpindahkan kalau sampel
batuan dicelupkan kedalam suatu fluida tertentu. Gambar-gambar dibawah merupakan
alat untuk mengukur porositas.

kemampuan untuk menampung dan mengalirkan fluida yang terkandung di dalamnya.
Dan hal ini dinyatakan dalam bentuk permeabilitas dan porositas. Porositas dan
permeabilitas ini sangat erat hubungannya sehingga dapat dikatakan bahwa permeabilitas
adalah tidak mungkin tanpa porositas walaupun sebaliknya belum tentu demikian, karena
batuan yang bersifat porous belum tentu mempunyai sifat kelulusan terhadap fluida yang
melewatinya. Sifat-sifat batuan yang lainnya adalah : wettabilitas, tekanan kapiler,
saturasi dan kompresibilitas batuan.
I. POROSITAS
Porositas merupakan ukuran ruang-ruang kosong dalam suatu batuan. Secara definitif
porositas merupakan perbandingan antara volume ruang yang terdapat dalam batuan
yang berupa pori-pori terhadap volume batuan secara keseluruhan, biasanya dinyatakan
dalam fraksi.
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan total
(bulk volume)
2. Porositas efektif, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap
volume batuan total (bulk volume).
Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen
diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.
Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah batuan
konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat diklasifikasikan
menjadi 3 golongan , yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan,
sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan secara
kuantitatif karena bentuknya tidak teratur.
3. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2)
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas yang lebih
besar dari pada batugamping sendiri.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran butir
(semakin baik distribusinya, semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir
berbentuk kubus mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk rhombohedral),
kompaksi, dan sementasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas antara lain :
- Ukiran butir atau grain size
Semakin kecil ukuran butir maka rongga yang terbentuk akan semakin kecil pula
dan sebaliknya jika ukuran butir besar maka rongga yang terbentuk juga semakin
besar.
- Bentuk butir atau sphericity
Batuan dengan bentuk butir jelek akan memiliki porositas yang besar, sedangkan
kalau bentuk butir baik maka akan memiliki porositas yang kecil.
- Susunan butir
Apabila ukuran butirnya sama maka susunan butir sama dengan bentuk kubus dan
mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk rhombohedral.
- Pemilahan
Apabila butiran baik maka ada keseragaman sehingga porositasnya akan baik pula.
Pemilahan yang jelek menyebabkan butiran yang berukuran kecil akan menempati
rongga diantara butiran yang lebih besar akibatnya porositasnya rendah.
- Komposisi mineral
Apabila penyusun batuan terdiri dari mineral-mineral yang mudah larut seperti
golongan karbonat maka porositasnya akan baik karena rongga-rongga akibat
proses pelarutan dari batuan tersebut.
- Sementasi
Material semen pada dasarnya akan mengurangi harga porositas. Material yang
dapat berwujud semen adalah silika, oksida besi dan mineral lempung.
- Kompaksi dan pemampatan
Adanya kompaksi dan pemampatan akan mengurangi harga porositas. Apabila
batuan terkubur semakin dalam maka porositasnya akan semakin kecil yang
diakibatkan karena adanya penambahan beban.
Pengukuran porositas dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:
1. Pengukuran laboratorium dengan menggunakan sampel batuan (core).
2. Pengukuran dengan menggunakan logging tool, seperti neutron log, density log dan
sonic log.
Pengukuran porositas dilaboratorium akan dijelaskan pada bab ini sedangkan
pengukuran dengan log akan dijelaskan pada bab berikutnya. Pengukuran di lab
mengunakan sampel batuan yang sering disebut dengan sampel core, sampel core dapat
diperoleh pada waktu pengeboran.
Terdapat tiga besaran yang dapat diukur di laboratorium, yaitu: volume total, volume
pori dan volume butiran. Untuk perhitungan porositas hanya diperlukan dua antaranya,
pengukuran ketiga-tiganya hanya diperlukan untuk cross cek saja.
Volume total batuan/core sebenarnya dapat diukur dengan mengukur dimensinya kalau
saja bentuk sampel batuan tersebut beraturan seperti kubus, silinder. Untuk bentuk yang
tidak beraturan dimana pengukuran dimensi tidak dimungkinkan, maka pengukuran
dapat dilakukan dengan mengukur volume cairan yang terpindahkan kalau sampel
batuan dicelupkan kedalam suatu fluida tertentu. Gambar-gambar dibawah merupakan
alat untuk mengukur porositas.

Langganan:
Postingan (Atom)
